Beranda | Artikel
Peringatan untuk Tidak Menaati dalam Kemaksiatan
14 jam lalu

Peringatan untuk Tidak Menaati dalam Kemaksiatan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 27 Rabiul Awal 1448 H / 9 September 2026 M.

Kajian Islam Tentang Peringatan untuk Tidak Menaati dalam Kemaksiatan

Imam Al-Barbahari berkata, “Termasuk bagian dari sunnah adalah tidak menaati siapa pun dalam kemaksiatan kepada Allah.” Seseorang tidak boleh menaati siapa pun apabila perintahnya mengajak kepada kemaksiatan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri, yaitu pemimpin kaum muslimin. Ketaatan juga diperintahkan kepada kedua orang tua, sedangkan istri diperintahkan menaati suaminya dan anak diperintahkan menaati orang tuanya. Namun, seluruh ketaatan tersebut berlaku dengan syarat tidak dalam perkara maksiat.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Ketaatan hanya dalam perkara yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila perkara tersebut berupa kekufuran, kesyirikan, kemaksiatan, dosa besar, atau dosa kecil, selama termasuk perkara yang haram, seseorang tidak boleh menaatinya kepada siapa pun. Adapun perkara makruh, sebagian ulama membolehkan ketaatan dalam hal tersebut.

Seseorang tetap diperintahkan berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Namun, apabila keduanya mengajak untuk mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla, ajakan itu tidak boleh ditaati, sementara hubungan dengan keduanya tetap dijalani dengan cara yang baik. Larangan menaati orang tua dalam perkara kekufuran dan kesyirikan bukan berarti seseorang berhenti berbuat baik kepada mereka.

Demikian pula terhadap pemimpin. Apabila pemimpin berbuat dosa atau mengajak sebagian rakyatnya berbuat dosa, bukan berarti ia tidak ditaati sama sekali. Dalam perkara makruf, kebaikan, dan perkara yang bukan maksiat, mereka tetap ditaati. Namun, dalam perkara dosa, kemaksiatan, dan kezaliman, seseorang tidak boleh ikut-ikutan, mendukung, atau menaatinya.

Selama seseorang diajak melakukan dosa dan maksiat, tidak ada ketaatan kepada manusia, siapa pun dia, dalam perkara maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dalam ayat tersebut, perintah menaati Allah dan Rasul menggunakan kata kerja yang diulang, sedangkan perintah menaati ulil amri tidak diulang. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin dibatasi pada perkara yang bukan maksiat.

Ketaatan kepada Allah bersifat mutlak karena Allah tidak mungkin memerintahkan kemaksiatan atau keburukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tidak mungkin memerintahkan keburukan; seluruh perintah beliau pasti mengandung kebaikan. Adapun ulil amri atau pemerintah, mereka bisa saja mengajak kepada kemaksiatan dan kezaliman. Karena itu, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat.

Seseorang juga tidak boleh mencintai perkara-perkara tersebut, tetapi harus mengingkarinya.

Kewajiban Bertobat kepada Allah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Apabila kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu), kalau tidak mampu maka dengan lisanmu, kalau tidak mampu maka dengan cara engkau tidak menyetujuinya (benci dalam hatimu), dan itu adalah bagian yang lemah dari iman kita.” (HR. Muslim)

Setiap Muslim wajib membenci kemaksiatan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

 مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Siapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar, karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah meskipun sejengkal dan kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim)

Seorang muslim tidak boleh mencabut tangan dari ketaatan, memberontak, melawan, atau melakukan kudeta. Hendaklah ia bersabar dan mendoakan kebaikan agar pemimpin tersebut kembali kepada kebenaran, bertobat kepada Allah, dan mendapatkan petunjuk.

Beliau kemudian memberikan nasihat lain: kita wajib mengimani bahwa tobat diwajibkan bagi seluruh manusia. Setiap orang wajib senantiasa bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari dosa besar maupun dosa kecil.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur [24]: 31)

Setiap anak Adam pasti melakukan dosa. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa hamba-hamba-Nya berbuat dosa siang dan malam, sedangkan Dia mengampuni semua dosa. Karena itu, hendaklah mereka memohon ampun kepada-Nya; Dia akan mengampuni mereka.

Dalam hadits qudsi lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa selama seorang hamba berdoa dan berharap kepada-Nya, Dia akan mengampuni apa pun yang telah dilakukannya. Seandainya dosa manusia mencapai langit, lalu ia memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampuninya. Seandainya seseorang datang membawa dosa sepenuh bumi, tetapi tidak membawa dosa syirik, Allah akan mendatangkan ampunan sebanyak itu pula.

Lihat: Hadits Arbain Ke 42 – Tiga Hal Yang Bisa Menghapuskan Dosa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا…

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang tulus. Semoga Rabbmu menghapus kesalahan-kesalahanmu.” (QS. At-Tahrim [66]: 8)

…وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Siapa yang tidak bertobat adalah orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat[49]: 11)

Ketika menyebutkan sifat orang-orang bertakwa yang disiapkan untuk mereka surga seluas langit dan bumi, Allah tidak menyatakan bahwa mereka terbebas dari dosa. Di antara sifat mereka ialah berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan manusia.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka tidak terus-menerus mengerjakan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 135)

Setiap kali berbuat dosa, mereka segera bertobat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” Beliau juga bersabda bahwa tobat menghapus dosa yang dilakukan sebelumnya.

Para ulama menjelaskan bahwa orang yang bertobat dari riya, pembunuhan, dan zina, lalu beriman serta beramal saleh, akan mendapatkan penggantian dosa menjadi kebaikan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan kebajikan; kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan [25]: 70)

Tobat harus dilakukan segera, selama matahari belum terbit dari barat dan selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal menjemputnya.

Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Peringatan untuk Tidak Menaati dalam Kemaksiatan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56541-peringatan-untuk-tidak-menaati-dalam-kemaksiatan/